PENGERTIAN, CARA KERJA, PENERAPAN DAN MANFAAT PENDEKATAN DALAM STUDI ISLAM

PENGERTIAN, CARA KERJA, PENERAPAN DAN MANFAAT PENDEKATAN DALAM STUDI ISLAM

 

 

TUGAS INDIVIDU

 

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas kelompok pada

Mata Kuliah: Pendekatan Studi Islam

Dosen: Dr. Zakariyah, M.Pd.I

 

 

Oleh:

SUSANTI MAHMUD

 

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT KH ABDUL CHALIM MOJOKERTO

2018

KATA PENGANTAR

            Segala puji bagi Allah SWT pencipta alam semesta yang telah menganugerahi kita semua dengan berbagai macam ilmu pengetahuan dan Syukur Alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Karena hanya dengan kodrat-Nya Penulis dapat menyusun tugas ini walaupun Penulis yakin banyak kekurangan dan kekeliruan dalam penyusunannya.

Penyusunan tugas ini yang berjudul PENGERTIAN, CARA KERJA, PENERAPAN DAN MANFAAT PENDEKATAN DALAM STUDI ISLAM”, dilakukan dengan tujuan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen pemberi mata kuliah Pendekatan Studi Islam yakni Bapak Dr. Zakariyah, M.Pd.I.

Sejak awal hingga akhir penyusunan tugas ini, Penulis tidak luput dari hambatan, serta kesulitan, namun berkat rahmat Tuhan Yang Kuasa disertai usaha dan kemauan, bimbingan dari dosen, serta bantuan moril maupun material dari pihak perpustakaan dan teman-teman, maka tugas ini dapat diselesaikan.

Dengan segala keterbatasan yang ada, kami berusaha menghadirkan rumusan ini. Dengan harapan dapat bermanfaat bagi kita sekalian. Tak ada gading yang tak retak, demikian pepatah mengatakan. Oleh karena itu, tegur sapa membangun kami harapkan demi perbaikan selanjutnya.

Mojokerto, 15 Maret 2018

Penyusun

 

SUSANTI MAHMUD

DAFTAR ISI

LEMBARAN JUDUL……………………………………………………………………….. i

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………. ii

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………. iii

BAB I PENDAHULUAN

  • Latar Belakang Masalah………………………………………………………. 1
  • Rumusan Masalah………………………………………………………………… 2
  • Tujuan Penulisan………………………………………………………………….. 2

BAB II PEMBAHASAN

  • Mendeskripsikan pendekatan teologi dalam studi islam…………… 4
  • Mendeskripsikan pendekatan sosiologi dalam studi islam………… 6
  • Mendeskripsikan pendekatan historis dalam studi islam…………… 7
  • Mendeskripsikan pendekatan psikologis dalam studi islam………. 9
  • Mendeskripsikan pendekatan budaya dalam studi islam………….. 10
  • Mendeskripsikan pendekatan filologi dalam studi islam………….. 11
  • Mendeskripsikan pendekatan filsafat dalam studi islam………….. 15
  • Mendeskripsikan pendekatan normative dalam studi islam……… 17
  • Mendeskripsikan pendekatan antropologi dalam studi islam……. 18

BAB IIIPENUTUP

  • Kesimpulan……………………………………………………………………….. 20
  • Saran………………………………………………………………………………… 20

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………. 21

 

BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang Masalah

Dewasa ini kehadiran agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif di dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi umat manusia. Agama tidak boleh hanya sekedar menjadi lambang kesalehan atau berhenti sekedar disampaikan dalam khotbah, melainkan secara konsepsional menunjukkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan maalah.

Tuntutan terhadap agama yang demikian itu dapat dijawab manakala pemahaman agama yang selama ini banyak menggunakan pendekatan teologis normatif dilengkapi dengan pemahaman agama yang menggunakan pendekatan lain, yang secara operasional konseptual, dapat memberikan jawaban terhadap masalah yang timbul.

Berkenaan dengan pemikiran di atas, maka pada bab ini pembaca akan diajak untuk mengkaji berbagai pendekatan yang dapat digunakan dalam memahami agama. Hal demikian perlu dilakukan, karena melalui pendekatan tersebut kehadiran agama secara fungsional dapat dirasakan oleh penganutnya. Sebaliknya tanpa mengetahui berbagai pendekatan tersebut, tidak mustahil agama menjadi sulit dipahami oleh masyarakat, tidak fungsional, dan akhirnya masyarakat mencari pemecahan masalah kepada selain agama, dan hal ini tidak boleh terjadi.

Berbgai pendekatan tersebut meliputi pendekatan teologis normatif, antropologis, sosiologis, psikologis, historis, filologi, kebudayaan, dan pendekatan filosofis. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan di sini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam hubungan ini, agama dapat diteliti dengan menggunakan berbagai paradigma. Realitas keagamaan yang diungkapkan mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan kerangka paradigmanya. Karena itu, tidak ada persoalan apakah penelitian agama itu penelitian ilmu sosial, penelitian legalistik atau penelitian filosofis.

  • Rumusan Masalah
  1. Mendeskripsikan pendekatan teologi dalam studi islam
  2. Mendeskripsikan pendekatan sosiologi dalam studi islam
  3. Mendeskripsikan pendekatan historis dalam studi islam
  4. Mendeskripsikan pendekatan psikologis dalam studi islam
  5. Mendeskripsikan pendekatan budaya dalam studi islam
  6. Mendeskripsikan pendekatan filologi dalam studi islam
  7. Mendeskripsikan pendekatan filsafat dalam studi islam
  8. Mendeskripsikan pendekatan normative dalam studi islam
  9. Mendeskripsikan pendekatan antropologi dalam studi islam

1.3 Tujuan Penulisan           

Tujuan penulis menulis makalah ini adalah :

  1. Agar mahasiswa dapat memahami dan mengerti tentang pendekatan teologis dalam studi islam
  2. Agar mahasiswa dapat memahami dan mengerti tentang pendekatan sosiologi dalam studi islam
  3. Agar mahasiswa dapat memahami dan mengerti tentang historis dalam studi islam
  4. Agar mahasiswa dapat memahami dan mengerti tentang pendekatan psikologis dalam studi islam
  5. Agar mahasiswa dapat memahami dan mengerti tentang pendekatan budaya dalam studi islam
  6. Agar mahasiswa dapat memahami dan mengerti tentang pendekatan filologi dalam studi islam
  7. Agar mahasiswa dapat memahami dan mengerti tentang filsafat dalam studi islam
  8. Agar mahasiswa dapat memahami dan mengerti tentang pendekatan normative dalam studi islam
  9. Agar mahasiswa dapat memahami dan mengerti tentang pendekatan antropologi dalam studi islam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  • PENDEKATAN TEOLOGI
  1. Pengertian Pendekatan Teologi

Teologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari pengetahuan tentang hakikat tuhan serta keberadaannya. Teologi berasal dari bahasa Yunani, theos yang berarti Allah  dan logis, yang artinya ilmu. Teologi adalah ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang berkaitan dengan beragama atau ilmu yang mempelajari tentang Tuhan. Teologis membahas materi tentang eksistensi Tuhan dan tuhan-tuhan dalam sebuah konsep nilai-nilai ketuhanan yang terkonstruksi dengan baik sehingga pada akhirnya menjadi sebuah agama/ aliran kepercayaan.

Pendekatan teologis dibagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut:

  1. Teologi normatif/ apologis, yaitu upaya memahami agama dengan menggunakan kerangka ilmu ketuhanan yang menimbulkan keyakinan bahwa agama yang dianut adalah yang paling benar dibandingkan dengan agama lain.
  2. Teologi dialogis, yaitu mengkaji agama tertentu dengan menggunakan perspektif agama lain. Teologi ini bertolak dari perspektif teologi kristen. Bahkan, banyak digunakan orientalis dalam mengkaji islam.
  3. Teologi konvergensi, yaitu metode pendekatan terhadap agama dengan melihat unsur-unsur persamaan dari setiap agama/ aliran, untuk mempersatukan unsur esensial dalam agama-agama sehingga tidak tampak perbedaan yang esesnsial.[1]
  4. Cara Kerja Pendekatan Teologi

Dapat diketahui bahwa pendekatan teologi dalam pemahaman keagamaan adalah pendekatan yang menekankan pada bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan yang masing-masing bentuk forma atau simbol-simbol keagamaan tersebut mengklaim dirinya sebagai yang paling benar sedangkan yang lainnya sebagai salah. Aliran teologi yang satu begitu yakin dan fanatik bahwa pahamnyalah yang benar sedangkan paham lainnya slaah, sehingga memandang paham orang lain itu keliru, sesat, kafir, murtad, dan seterusnya. Dengan demikian, antara satu aliran dan aliran lainnya tidak terbuka dialog atau saling menghargai. Yang ada hanyalah ketertutupan, sehingga yang terjadi adalah pemisahan dan terkotak-kotak.[2]

Salah satu ciri dari teologi masa kini adalah sifat kritisnya. Sikap kritis ini ditujukan pertama-tama pada agamanya sendiri (agama sebagai institusi sosial dan kemudian juga kepada situasi yang yang dihadapinya). Teologi sebagai kritik agama berarti antara lain mengungkapkan berbagai kecenderungan dalam institusi agama yang menghambat panggilannya, menyelamatkan manusia dan kemanusiaan.

  1. Penerapan Pendekatan Teologi

Teologis kritis bersikap kritis pula terhadap lingkungannya. Hal ini hanya dapat terjadi kalau agama terbuka juga terhadap ilmu-ilmu sosial dan memanfaatkan ilmu tersebut bagi pengembangan teologinya. Penggunaan ilmu-ilmu sosial dalam teologi merupakan fenomena baru dalam teologi. Lewat ilmu-ilmu sosial itu dapat diperoleh gambaran mengenai situasi yang ada. Melalui analisis ini dapat diketehui berbagai faktor yang menghambat ataupun yang mendukung realisasi keadilan sosial dan emansipasi. Dengan lain perkataan, ilmu-ilmu sosial membangtu untuk mengkaji akar ketidakadilan dankemiskinan. Dengan demikian, teologi ini bukan hanya berhenti pada pemahaman mengenai ajaran agama, tetapi mendorong terjadinya transformasi sosial. Maka beberapa kalangan menyebut teologi kepedulian sosial itu teologi transformatif.[3]

  1. Manfaat Pendekatan Teologi

Pendekatan teologis dalam memahami agama menggunakan cara berpikir deduktif, yaitu cara berpikir yang berawal dari keyakinan yang diyakini benar dan mutlak adanya, karena ajaran yang berasal dari tuhan, sudah pasti benar, sehingga tidak perlu dipertanyakan lebih dahulu melainkan dimulai dari keyakinan yang selanjutnya diperkuat dengan dalil-dalil dan argumentasi.[4]

  • PENDEKATAN SOSIOLOGI
  1. Pengertian Pendekatan Sosiologi

Pendekatan sosiologi adalah salah satu upaya memahami agama dengan carameningkatkan kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungan sosialnya agar pola pikirnya berkembang dan mengalami evolusi, yang menyebabkan perubahan sosial masyarakat baru dan terciptanya tingkat integrasi lebih besar.[5]

Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup serta pula kepercayaannya, keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama dalam tiap persekutuan hidup manusia.

  1. Cara Kerja Pendekatan Sosiologi

Sosiologi dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam memahami agama, hal demikian dapat dimengerti, karena banyak bidang kajian agama yang baru dapat dipahami secara proporsional dan tepat apabila menggunakan jasa bantuan dari ilmu sosiologi. Dalam agama Islam dapat dijumpai peristiwa Nabi Yusuf yang dahulu budak lalu akhirnya bisa jadi penguasa di Mesir. Mengapa dalam melaksanakan tugasnya Nabi Musa harus dibantu oleh Nabi Harun. Beberapa peristiwa tersebut baru dapat dijawab dan sekaligus dapt ditemukan hikmahnya dengan bantuan ilmu sosial. Tanpa ilmu sosial peristiwa-peristiwa tersebut sulit dijelaskan dan sulit pula dipahami maksudnya. Di sinilah letaknya sosiologi sebagai salah satu alat dalam memahami ajaran agama.

  1. Penerapan Pendekatan Sosiologi

Besarnya perhatian agama terhadap masalah sosial ini selanjutnya mendorong kaum agama memahami ilmu-ilmu sosial sebagai alat untuk memahami agamanya. Dalam bukunya berjudul Islam Alternatif, Jalaluddin Rahmat telah menunjukkan betapa besarnya perhatian agama yang dalam hal ini Islam terhadap masalah sosial, dengan mengajukan salah satu alasan bahwa dalam Al-Qur’an atau kitab-kitab hadis, proporsi terbesar kedua sumber hukum Islam itu berkenaan dengan urusan muamalah. Menurut Ayattullah Khomaeni dalam bukunya Al-Hukumah Al-Islamiyah yang dikutip Jalaluddin Rahmat, dikemukakan bahwa perbandingan antara ayat-ayat ibadah dan ayat-ayat yang menyangkut kehidupan sosial adalah salah satu berbanding seratus, untuk satu ayat ibadah, ada seratus ayat muamalah (masalah sosial). Ciri-ciri orang mukmin sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Mikminun ayat 1-9 misalnya adalah orang yang salatnya khusyu’, menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak bermanfaat, menjaga amanat dan janjinya dan dapat menjaga kehormatannya dari perbuatan maksiat.[6]

  1. Manfaat Pendekatan Sosiologi

Pentingnya pendekatan sosiologi dalam memahami agama, karena banyak sekali ajaran agama yang berkaitan dengan masalah sosial. Melalui pendekatan sosiologis agama akan dapat dipahami dengan mudah, karena agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial.

  • PENDEKATAN HISTORIS
  1. Pengertian Pendekatan Historis

Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut. Jadi, Pendekatan historis adalah meninjau suatu permasalahan dari sudut tinjauan sejarah, dan menjawab permasalahan serta menganalisisnya dengan menggunakan metode analisis sejarah. Sejarah atau histori adalah studi yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa atau kejadian masa lalu yang menyangkut kejadian atau keadaan yang sebenarnya.[7]

  1. Cara Kerja Pendekatan Historis

Melalui pedekatan sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis kealam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam alam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis.

Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang kongkrit bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini, Kuntowijoyo telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang dalam hal ini islam, menurut pendekatan sejarah. Ketika ia mempelajari Al-qur’an, ia menyimpulkan bahwa pada dasarnya kandungan Al-qur’an itu terbagi menjadi dua bagian. Pertama, berisi konsep-konsep dan bagian. Kedua, berisi kisah-kisah sejarah dan perumpamaan.[8]

  1. Penerapan Pendekatan Historis

Melalui pendekatan ini seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Dari sini, maka seseorang tidak akan memahami agama keluar dari konteks historisnya, karena pemahaman demikian itu akan menyesatkan orang yang akan memahaminya. Seseorang yang ingin memahami Al-Quran secara benar misalnya, yang bersangkutan harus mempelajari sejarah turunnya Al-Quran atau kejadian-kejadian yang mengiringi turunnya Al-Quran yang selanjutnya disebut sebagai Ilmu Asbab al-Nuzul yang pada intinya berisi sejarah turunnya ayat Al-Quran.

  1. Manfaat Pendekatan Historis

Dalam bagian pertama yang berisi konsep-konsep, kita mendapati banyak sekali istilah Al-qur’an yang merujuk pada pengertian-pengertian normatif yang khusus, doktrin-doktrin etik, aturan-aturan legal, dan ajaran-ajaran keagamaan pada umumnya. Dalam bagian ini kita mengenal banyak sekali konsep, baik yang bersifat abstrak maupun konkret. Konsep tentang Allah, konsep tentang malaikat, tentang akhirat, tentang ma’ruf, munkar, dan sebagainya adalah konsep-konsep yang abstrak.

  • Pendekatan Psikologis
  1. Pengertian Pendekatan Psikologis

Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa seseorang melalui gejala perilaku yang dapat diamatinya. Pendekatan psikologis merupakan pendekatan yang bertujuan untuk melihat keadaan jiwa pribadi-pribadi yang beragama. Dalam pendekatan ini, yang menarik bagi peneliti adalah keadaan jiwa manusia dalam hubungannya dengan agama, baik pengaruh maupun akibat. Lebih lanjut, bahwa pendekatan psikologis bertujuan untuk menjelaskan fenomena keberagamaan manusia yang dijelaskan dengan mengurai keadaan jiwa manusia.[9]

  1. Cara Kerja Pendekatan Psikologis

Dalam ajaran agama banyak dijumpai istilah-istilah yang menggambarkan sikap batin seseorang. Misalnya, sikap beriman dan bertakwa kepada Allah, sebagai orang yang saleh, orang yang berbuat baik, orang yang sadik (jujur), dan sebagainya. Semua itu adalah gejala-gejala kejiwaan yang berkaitan dengan agama. Kita misalnya dapat mengetahui pengaruh dari shalat, puasa, jakat, haji, dan ibadah lainnya dengan melalui ilmu jiwa.[10]

  1. Penerapan Pendekatan Psikologis

Dengan pengetahuan ini, maka dapat disusun langkah-langkah baru yang lebih efisien lagi dalam menanamkan ajaran agama. Dari uraian tersebut kita melihat ternyata agama dapat dipahami melalui berbagai pendekatan. Dengan pendekatan itu semua orang akan sampai pada agama. Seorang teolog, sosiolog, antropolog, sejarawan, ahli ilmu jiwa, dan budayawan akan sampai kepada pemahaman agama yang benar. Di sini kita melihat bahwa agama bukan hanya monopoli kalangan teolog dan normatif belaka, melainkan agama dapat dipahami semua orang sesuai dengan pendekatan dan kesanggupan yang dimilikinya. Dari kedaan demikian seseorang akan memiliki kepuasan dari agama karena seluruh persoalan hidupnya mendapat bimbingan dari agama.

  1. Manfaat Pendekatan Psikologis

Dengan ilmu jiwa ini seseorang selain akan mengetahui tingkat keagamaan yang dihayati, dipahami dan diamalkan seseorang juga dapat digunakan sebagai alat untuk memasukkan agama ke dalam jiwa seseorang sesuai dengan tingkatan usianya. Dengan ilmu ini agama akan menemukan cara yang tepat dan cocok untuk menanamkannya.

  • Pendekatan Budaya
  1. Pengertian Pendekatan Budaya

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kebudayaan diartikan sebagai hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, adat istiadat, dan berarti pula kegiatan (usaha) batin (akal dan sebagaimya) untuk menciptakan sesuatu yang termasuk hasil kebudayaan.[11]

Pendekatan kebudayaan dapat diartikan sebagai metodologi atau sudut dan cara pandang yang menggunakan kebudayaan sebagai kacamatanya. Permasalahannya kemudian, adalah mendefinisikan konsep kebudayaan yang digunakan sebagai sudut atau cara pandang ini.[12]

  1. Cara Kerja Pendekatan Budaya

Di dalam kebudayaan tersebut terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat istiadat dan sebagainya. Kebudayaan yang demikian selanjutnya dapat pula digunakan untuk memahami agama yang terdapat pada tataran empiris atau agama yang tampil dalam bentuk formal yang menggejala di masyarakat. Pengamalan agama yang terdapat di masyarakat tersebut diproses oleh penganutnya dari sumber agama, yaitu wahyu melalui penalaran. Dengan demikian, agama menjadi membudaya atau membumi di tengah-tengah masyarakat

  1. Penerapan Pendekatan Budaya

            Dalam penerapan pendekatan budaya misalnya kita menjumpai kebudayaan berpakaian, bergaul, bermasyarakat, dan sebagainya. Dalam produk kebudayaan tersebut, unsur agama ikut berintegrasi. Pakaian model jilbab, kebaya atau lainnya dapat dijumpai dalam pengamalan agama. Sebaliknya, tanpa adanya unsur budaya, maka agama akan sulit dilihat sosoknya secara jeas.

  1. Manfaat Pendekatan Budaya

Agama yang tampil dalam bentuknya yang demikian itu berkaitan dengan kebudayaan yang berkembang di masyarakat tempat agama itu berkembang. Dengan melalui pemahaman terhadap kebudayaan tersebut seseorang akan dapat mengamalkan ajaran agama.

  • Pendekatan Filologi
  1. Pengertian Pendekatan Filologi

Filologi merupakan satu kajian yang bertugas menelaah dan menyunting naskah untuk dapat mengetahui isinya. Filologi berasaldari kata dalam bahasa Yunani, yaitu kata “philos” yang berarti ‘cinta ‘ dan “logo”’ yang berarti ‘pembicaraan’, ‘kata’ atau ‘ilmu’. Secara etimologis filologi berarti cinta kata-kata. Berasal dari bahasa Yunani, philologia, gabungan dari philos ‘cinta’ dan logos ‘pembicaraaneatau ‘ilmu’. Dalam bahasa Yunani, philologia berarti ‘senang berbicara’. Dari pengertian ini kemudian ‘senang kepada tulisan-tulisan yang bernilai tinggi’ seperti ‘karya-karya sastra’.[13] Konsep filologi demikian bertujuan mengungkapkan hasil budaya masa lampau sebagaimana yang terungkap dalam teks aslinya.

  1. Cara Kerja Pendekatan Filologi
  • Dasar Kerja Filologi

Kerja filologi didasarkan pada prinsip bahwa teks berubah dalam penurunan (transmisi)nya, sehingga muncul teks yang bervariasi.

Jadi, filologi bekerja karena adanya sejumlah variasi teks.

  • Sasaran dan Obyek Kerja Filologi
  1. Sasaran kerja filologi adalah naskah.
  2. Obyek kerja filologi adalah teks atau muatan naskah.
  3. Teks adalah tulisan yang memuat informasi yang terkandung dalam naskah.
  • Langkah Kerja Penelitian Filologi

Pekerjaan utama dalam penelitian filologi adalah:

  1. Mendapatkan kembali naskah yang bersih dari kesalahan dan sesuai dengan aslinya.
  2. Menyajikan teks dalam bentuk terbaca oleh masyarakat pembaca masa kini.
  • Langkah Kerja Filologi
  1. Inventarisasi Naskah
  • Menentukan naskah atau teks yang akan dijadikan obyek penelitian.
  • Mendaftar semua naskah (obyek penelitian) di berbagai perpustakaan, museum, lembaga swasta, lembaga pemerintahan, atau koleksi perorangan.
  • Pendaftaran naskah didasarkan atas daftar naskah atau katalog di perpustakaan.
  • Naskah-naskah yang sudah didaftar atau diinvntarisir harus didapat atau diperoleh dengan cara memfotocopinya atau merekam dari microfilm.
  • Semua naskah yang sudah didapatkan harus dicatat nomor katalognya dan diberi kategorisasi menurut abjad (A, B, C, D dan seterusnya).
  1. Deskripsi Naskah
  • Semua naskah yang telah didapat diuraikan atau dideskripsikan secara rinci.
  • Deskripsi naskah mencakup nomor katalog naskah, keadaan naskah, bahan naskah, tulisan dalam naskah, umur naskah, catatan lain mengenai naskah, dan pokok-pokok isi naskah.
  • Dengan deskripsi naskah dapat diketahui lengkap tidaknya naskah, jelas tidaknya tulisan, dan urut tidaknya cerita dalam naskah.
  1. Perbandingan Naskah
  • Semua naskah yang didapatkan harus harus dibaca satu persatu kemudian diperbandingkan satu dengan yang lainnya.
  • Perbandingan naskah bisa meliputi: perbandingan kata demi kata, perbandingan susunan kalimat, gaya bahasa, atau ejaannya, perbandingan isi cerita.
  • Setelah semua naskah-naskah itu digolongkan sesuai dengan kesamaan dan ciri-cirinya.
  • Penggolongan naskah sangat penting dan berguna untuk mengetahui kekerabatan antar naskah, menentukan silsilah naskah, dan untuk melacak transmisi naskah.
  • Dalam membandingkan naskah, perlu dicatat variasi-variasi yang ada dalam naskah.
  1. Penilaian (resensi) dan pengujian naskah (kolasi)
  • Penilaian dan pengujian naskah (teks) dilakukan dengan menggunakan salah satu metode yang ada dalam kritik teks.
  • Menentukan dan memilih bacaan atau urutan yang benar, serta menyelesaikan kekurangan atau masalah-masalah lain yang terdapat dalam naskah.
  • Pemilihan bacaan yang benar dan penyelesaikan permasalahan yang terdapat dalam naskah didasarkan atas teks yang ada atau berdasarkan tulisan-tulisan lain mengenai naskah.
  • Rekonstruksi atau Penyusunan Kembali Teks dalam Bentuk “Terbaca”.
  1. Transliterasi/Transkripsi Naskah.
  • Terjemah Naskah (Teks)

Pembahasan atau Analisis Teks sesuai dengan Pendekatan Yang Diperlukan.

Jika dilihat dari efektifitas fungsinya, metode ini dipergunakan jika sumber data berupa naskah atau manusktip. Ia dimaksudkan untuk mendeskripsikan secara cermat pemikiran-pemikiran yang terdapat dalam naskah tersebut melalui analisis kosa kata yang digunakan, berikut nuasa-nuasa yang ada di dalamnya, sehigga dapat terhindar dari kesalahpahaman pemikiran.

  1. Penerapan Pendekaan Filologi

Pendekatan filologi dalam pengkajian Islam sudah dikenal cukup lama. Pendekatan ini sangat populer bagi para pengkaji agama terutama ketika mengkaji naskah-naskah kuno peninggalan masa lalu. Karena obyek dari pendekatan filologi ini adalah warisan-warisan keagamaan, berupa naskah-naskah klasik dalam bentuk manuskrip. Naskah-naskah klasik itu meliputi berbagai disiplin ilmu; sejarah, teologi, hukum, mistisme dan lain-lainnya yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa dan belum dimanfaatkan di negara-negara muslim. Alat untuk mengetahui warisan-warisan intelektual Islam itu adalah bahasa, seperti bahasa Arab, Persia, Turki dan Urdu.

  1. Manfaat Pendekatan Filologi

Studi filologi merupakan kunci pembuka khazanah budaya lama yang terkandung dalam naskah-naskah. Karena itu, menurut Charles, studi filologi haruslah diteruskan dalam studi, karena banyak naskah yang meliputi sejarah, teologi hukum, mistik dan lain-lainnya, belum diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa dan belum dikaji oleh negara-negara Islam.

  • Pendekatan Filsafat
  1. Pengertian Pendekatan Filsafat

Pendekatan filsafat adalah cara pandang atau paradigma yang bertujuan untuk menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik objek formanya. Dengan kata lain, pendekatan filsafat adalah upaya sadar yang dilakukan untuk menjelaskan apa dibalik sesuatu yang nampak. Jika dihadapkan dengan Islam, maka sesuatu yang dikaji dalam pendekatan filsafat adalah mengenai segala ajaran-ajarannya. Selain untuk mencari, menjelaskan dan menemukan inti atau hakikat dari apa yang diajarkan agama Islam, tujuan lain pendekatan filsafat dalam Islam adalah sebagai pisau analisis dari setiap permasalahan dan gejala-gejala yang timbul akibat dari pengaruh ajaran agama tersebut.[14]

  1. Cara Kerja Pendekatan Filsafat

Berpikir secara filosofis tersebut selanjutnya dapat digunakan dalam memahami ajaran agama, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara seksama. Pendekatan filosofis yang demikian itu sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh para ahli.

Karena demikian pentingnya pendekatan filosofis ini, maka kita menjumpai bahwa filsafat telah digunakan untuk memahami berbagai bidang lainnya selain agama. Kita misalnya membaca adanya filsafat hukum islam, filsafat sejarah, filsafat kebudayaan, filsafat ekonomi dan lain sebagainya.

  1. Penerapan Pendekatan Filsafat

Melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada pengamalan agama yang bersifat formalistis, yakni mengamalkan agama dengan susah payah tapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti.

Namun demikian, pendekatan filosofis ini tidak berarti menafikan atau menyepelekan bentuk pengamalan agama yang bersifat formal. Filsafat mempelajari segi batin yang bersifat esoterik, sedangkan bentuk (forma) memfokuskan segi lahiriah yang bersifat eksoterik. Tampaknya pandangan filsafat yang bercorak perenialis ini secara metodologis memberikan harapan segar terhadap dialog antara umat beragama.

  1. Manfaat Pendekatan Filsafat

Melalui metode ini diharapkan tidak hanya sesama umat beragama menemukan transcendent unity of religion, melainkan dapat mendiskusikannya secara lebih mendalam, sehingga terbuka kebenaran yang betul-betul benar, dan tersingkirlah kesesatan yang betul-betul sesat, meskipun tetap dalam lingkup langit kerelatifan.

  • Pendekatan Normative
  1. Pengertian Pendekatan Normative

Pendekatan normatif yaitu suatu pendekatan yang memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Tuhan yang di dalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia.[15]

  1. Cara Kerja Pendekatan Normative

Dalam kajian yang lainnya yakni dalam sisi teologis sangat erat juga kaitannya dengan pendekatan normatif yaitu suatu pendekatan yang memandang agama dari segi ajarannya yang pokok dan asli dari Tuhan yang didalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia. Dalam pendekatan teologis agama dilihat sebagai suatu kebenaran mutlak dari Tuhan,tidak ada kekurangan sedikitpun dan tampak bersikap ideal.

  1. Penerapan Pendekatan Normativa

Dalam kaitan ini agama tampil sangat prima dengan seperangkat cirinya yang khas. Untuk agama Islam,secara normatif pasti benar, menjunjung nilai-nilai luhur yang diajarkan dalam kitab suci Al-Qur’an dan Hadist Nabi Saw.

Untuk bidang sosial misalnya dalam ajarannya agama tampil menawarkan nilai-nilai kemanusiaan, kebersamaan, kesetiakawanan, tolong menolong, tenggang rasa, persamaan derajat dan sebagainya. Untuk bidang ekonomi agama tampil menawarkan keadilan, kebersamaan, kejujuran dan saling menguntungkan. Untuk bidang ilmu pengetahuan, agama tampil mendorong pemeluknya agar memiliki ilmu setinggi-tingginya,menguasai ketrampilan, keahlian dan sebagainya. Demikian pula untuk bidang kesehatan lingkungan hidup, kebudayaan politik,dan sebagainya agama tampil ideal dan yang dibangun berdasarkan dalil-dalil yang terdapat dalam ajaran agama yang bersangkutan.

  1. Manfaat Pendekatan Normative

Adapun manfaat pendekatan normative adalah: Pertama, ada hal-hal yang untuk mengetahui kebenarannya dapat dibuktikan secara empirik dan eksperimental. Kedua, ada hal-hal yang sulit dibuktikan secara empiris dan eksperimental.  Untuk ha-hal yang dapat dibuktikan secara empirik biasanya disebut masalah yang berhubungan ra’yi (penalaran). Sedangkan masalah-masalah yang tidak berhubungan dengan empirik (ghaib) biasanya diusahakan pembuktiannya dengan mendahulukan kepercayaan

  • Pendekatan Antropologi
  1. Pengertian Pendekatan Antropologi

Pendekatan antropologi dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masayarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berusaha memberikan jawabannya.[16]

  1. Cara Kerja Pendekatan Antropologi

Sejalan dengan pendekatan tersebut, maka dalam berbagai penelitian antropologi agama dapat ditemukan adanya hubungan positif antara kepercayaan agama dengan kondisi ekonomi dan politik. Golongan masyarakat yang kurang mampu dan golongan miskin pada umumnya, lebih tertarik kepada gerakan-gerakan keagamaan yang bersifat mesianis, yang menjanjikan perubahan tatanan sosial kemasyarakatan.sedangkan golongan orang kaya lebih cenderung untuk mempertahankan tatanan masyarakat yang sudah mapan secara ekonomi lantaran tatanan itu menguntungkan pihaknya.

  1. Penerapan Pendekatan Antropologi

Melalui pendekatan antropologis di atas, kita melihat bahwa agama ternyata berkolerasi dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat. Dalam hubungan ini, kita ingin mengubah pandangan dan sikap etos kerja seseorang, maka dapat dilakukan dengan cara mengubah pandangan keagamaannya. Melalui pendekatan antropologis fenomenologis ini kita juga dapat melihat hubungan antara agama dan Negara (state and religion). Dan juga dapat ditemukan keterkaitan agama dengan psikoterapi.

Dengan demikian, pendekatan antropologi sangat dibutuhkan dalam memahami  ajaran agama, karena dalam ajaran agama tersebut terdapat uraian dan informasi yang dapat dijelaskan lewat bantuan ilmu antropologi dengan cabang-cabangnya.

  1. Manfaat Pendekatan Antropologi

Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam disiplin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama.

BAB III

PENUTUP

  • Simpulan

Salah satu prinsip teori fungsional menyatakan bahwa segala sesuatu yang tidak berfungsi akan lenyap dengan sendirinya. Karena sejak dulu hingga sekarang, agama dengan tangguh menyatakan eksistensinya, berarti ia mempunyai dan memerankan sejumlah peran dan fungsi di masyarakat. Oleh karena itu, secara umum, studi islam menjadi penting karena agama termasuk Islam, memerankan sejumlah peran dan fungsi di masyarakat.

Pada masa sekarang, ketika umat Islam sedang mengahadap tantangan dari kehidupan dunia dan budaya modern, studi keislaman menjadi sangat urgen. Studi Islam dituntut untuk membuka diri terhadap masuknya dan digunakannya pendekatan-pendekatan yang bersifat objektif dan rasional, dan secara bertahap, meninggalkan pendekatan yang bersifat subjektif doktriner. Dengan demikian, studi Islam akan berkembang dan mampu beradaptasi dengan dunia modern serta mampu menjawab tantangan kehidupan dunia dan budaya modern.

  • Saran

Melalui pendekatan yang bersifat objektif rasional, studi islam diharapkan mampu memberikan alternatif pemecahan masalah atau jalan keluar dari kondisi yang problematik tersebut. Studi Islam diharapkan dapat mengarah dan bertujuan untuk mengadakan usaha-usaha pembaharuan dan pemikiran kembali ajaran-ajaran agama Islam yang merupakan warisan doktriner turun-temurun dan dianggapnya sudah mapan dan mandeg serta ketinggalan zaman tersebut, agar mampu beradaptasi dan menjawab tantangan serta tuntutan zaman dan dunia modern, dengan tetap berpegang pada sumber dasar ajaran Islam yang asli dan murni, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Studi Islam tersebut juga digarapkan mampu memberikan pedoman dan pegangan hidup bagi uamt Islam agar tetap menjadi seorang Muslim sejati, yang hidup dalam dan mampu menjawab tantangan serta tuntutan zaman modern maupun era global sekarang ini.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Kodir, Koko. 2014. Metodologi Studi Islam. Bandung: Pustaka Setia.

Anwar, Rosihon dkk. 2017. Pengantar Studi Islam. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Nata, Abuddin. 2012. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajawali Pers.

Fakri, Evariani. 2009. Etno Budaya,

https://etnobudaya.net/2009/05/11/pendekatan-budaya-terhadap-agama/, di

akses pada 08 Maret 2018.

Fauzan, Hadi. 2013. Tarbiyah ‘ala Dawam,

http://hadifauzan.blogspot.co.id/2013/05/pendekatan-psikologis-dalam studiislam.html, di akses pada 08 Maret 2018.

Lombok, Mansur. 2016. Makalah Pendekatan Normatif ,

http://menzour.blogspot.co.id/2016/03/makalah-pendekatan-normatif.html, di akses pada 08 Maret 2018.

Musfiroh, Imas. 2015. Falak-Astronomi Dan Ilmu Lainnya ,

http://falastro.blogspot.co.id/2015/02/pendekatan-filsafat-dalam-studi-islam.html, di akses  pada 08 Maret 2018.

Poerwadarminta, W.S.S. Kamus Umum Bahasa Indonesia, op. Cit.,

Serero, Syamsuddin. 2014. Pendekatan Historis dalam Islam,

http://shirotuna.blogspot.co.id/2014/06/pendekatan-historis-dalam-islam.html, di akses pada 08 Maret 2018.

Syariah, Pijar. 2014. Pendekatan Filologi dalam Studi Islam,

http://keuanganperbankansyariah.blogspot.co.id/2014/12/pendekatanfilologi-dalam-studi-islam.html, di akses pada 08 Maret 2018.

[1] Koko Abdul Kodir, Metodologi Studi Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2014), hlm 114.

[2] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm 29.

[3] Ibid, hlm. 31.

[4] Ibid, hlm 34.

[5] Koko Abdul Kodir, Metodologi Studi Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2014), hlm 114.

[6] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm 40.

[7]Syamsuddin Serero,  Pendekatan Historis dalam Islam, http://shirotuna.blogspot.co.id/2014/06/pendekatan-historis-dalam-islam.html, di akses pada 08 Maret 2018.

[8] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm 47.

[9]Hadi Fauzan, Tarbiyah ‘ala Dawam, http://hadifauzan.blogspot.co.id/2013/05/pendekatan-psikologis-dalam-studi-islam.html, di akses pada 08 Maret 2018.

[10] Rosihon Anwar, dkk. Pengantar Studi Islam, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2017) hlm. 94.

[11] W.S.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, op. Cit., hlm. 156.

[12] Evariani Fakri, Etno Budayahttps://etnobudaya.net/2009/05/11/pendekatan-budaya-terhadap-agama/, di akses pada 08 Maret 2018.

[13] Pijar Syariah, Pendekatan Filologi dalam Studi Islam, http://keuanganperbankansyariah.blogspot.co.id/2014/12/pendekatan-filologi-dalam-studi-islam.html, di akses pada 08 Maret 2018.

[14]Imas, Musfiroh, Falak-Astronomi Dan Ilmu Lainnya , http://falastro.blogspot.co.id/2015/02/pendekatan-filsafat-dalam-studi-islam.html, di akses  pada 08 Maret 2018.

[15]Mansur lombok, Makalah Pendekatan Normatif , http://menzour.blogspot.co.id/2016/03/makalah-pendekatan-normatif.html, di akses pada 08 Maret 2018.

[16] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012), hlm 35.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s